KRITIK DAN SARAN

13 Januari 2014
Norma Kumala Dewi
Saya dari PT.Endo Indonesia importir & Distributor exclusive Laparoscopy Tontara . . . .

27 Juli 2013
Putu Iwan
kami dari mapanmajucreative, menawarkan jasa sewa proyektor, bagi rekan2 dokter . . . .
ARTIKEL

PENATALAKSANAAN HIPOGLIKEMI
20 September 2014

Kondisi gula darah rendah atau yang dikenal dengan istilah Hipoglikemia dalah kebalikan dari hiperglikemia (gula darah tinggi) yang menandakan diabetesGangguan kesehatan yang ditandai dengan kadar gula rendah ini adalah suatu kondisi yang tidak bisa didiamkan begitu saja. Bentuk hipoglikemia yang paling umum terjadi pada individu muda yang sehat, lebih sering terjadi pada wanita, dan gejalanya ringan, meskipun hal ini dapat berkaitan dengan gejala-gejala akibat stres. Hipoglikemia atau gula darah rendah adalah keadaan dimana kadar gula dalam darah berada di bawah 60 mg/dl. Penderita hipoglikemia yang masih tergolong ringan hingga medium sering mengalami gejala seperti: pandangan tidak jelas/kabur, sering merasa mual, kedinginan/menggigil, sakit di kepala, berkeringat dingin, cepat merasa lapar, bingung dan mudah cemas sera detak jantung yang cenderung berdebar-debar. Sementara itu, penderita Hipoglikemia yang telah parah terkadang mengalami gejala seperti : pingsan, kejang-kejang, koma/tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama dan bahkan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat.

Penatalaksanaan

Pada stadium permulaan (sadar), diberikan gula murni 30 gram (sekitar 2 sendok makan) atau sirup/permen gula murni (bukan pemanis pengganti gula atau gula diet/gula diabetes) dan makanan yang mengandung karbohidrat. Obat hipoglikemik dihentikan sementara. Glukosa darah sewaktu dipantau setiap 1-2 jam. Bila sebelumnya pasien tidak sadar, glukosa darah dipertahankan sekitar 200 mg/dl dan dicari penyebab hipoglikemia.

Pada stadium lanjut (koma hipoglikemia), diberikan larutan dekstrosa 40% sebanyak 2 flush (50 ml) bolus intravena dan diberikan cairan dekstrosa 10% per infus sebanyak 6 jam per kolf. Glukosa darah sewaktu diperiksa. Jika GDS < 50 mg/dl, ditambahkan bolus dekstrosa 40% 50 ml secara intravena; jika GDS < 100 mg/dl ditambahkan bolus dekstrosa 40% 25 ml intravena. GDS kemudian diperiksa setiap 1 jam setelah pemberian dekstrosa 40%, jika GDS < 50 mg/dl maka ditambahkan bolus dekstrosa 40% 50 ml intravena; jika GDS < 100 mg/dl maka ditambahkan bolus dekstrosa 40% 25 ml intravena; jika GDS 100-200 mg/dl maka tidak perlu diberikan bolus dekstrosa 40%; jika GDS > 200 mg/dl maka dipertimbangkan untuk menurunkan kecepatan drip dekstrosa 10%. Jika GDS > 100 mg/dl sebanyak 3 kali berturut-turut, pemantauan GDS dilakukan setiap 2 jam dengan protokol sesuai di atas. Jika GDS > 200 mg/dl, pertimbangkan mengganti infus dengan dekstrosa 5% atau NaCl 0,9%. Apabila GDS > 200 mg/dl sebanyak 3 kali berturut-turut, dilakukan sliding scale setiap 6 jam dengan regular insulin.

Penulis : dr.Narakusuma Wirawan, S.ked

sumber gambar : lpkeperawatan.blogspot.com



 
Copyright © 2010 IDI Jembrana. All Rights Reserved. Maintained by rumahmedia