KRITIK DAN SARAN

13 Januari 2014
Norma Kumala Dewi
Saya dari PT.Endo Indonesia importir & Distributor exclusive Laparoscopy Tontara . . . .

27 Juli 2013
Putu Iwan
kami dari mapanmajucreative, menawarkan jasa sewa proyektor, bagi rekan2 dokter . . . .
ARTIKEL

Pengenalan dan Penatalaksanaan Terkini Multi Drug Resistance Tuberculosa (MDR TB)
06 Juli 2014

Oleh: dr. Narakusuma Wirawan, S.Ked

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Mayoritas infeksi TB menyerang paru-paru, tetapi bisa juga menginfeksi organ tubuh lain, seperti getah bening, tulang, sistem saraf, sistem pencernaan, sistem reproduksi, dan lain sebagainya. Upaya eradikasi TB sudah digalakkan sejak lama yaitu : Program pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung, yang sering disebut DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) dimulai sejak tahun 1992. Penerapan pengobatan TB selama 6 bulan menuai permasalahan baru dalam dunia kesehatan. Rendahnya kepatuhan pasien untuk mengonsumsi obat secara rutin, mengakibatkan munculnya permasalahan baru, yaitu kasus TB MDR (multi drug resistant).

TBC

TB MDR adalah kondisi di mana pasien resisten terhadap obat antituberkulosis (OAT) yang paling poten (INH dan rifampicin) secara bersama-sama atau disertai resistensi tehadap OAT lini pertama (ethambutol, streptomycin, dan pirazinamide). Jangka waktu pengobatan yang sangat panjang antara 18-24 bulan dan efek samping yang lebih berat TB MDR, bila dibandingkan dengan TB biasa. Terdapat 2 jenis kasus resistensi obat yaitu kasus baru (primer) dan kasus telah diobati sebelumnya (Sekunder). Secara umum resitensi terhadap obat anti tuberkulosis dibagi menjadi :

  • Resistensi primer ialah apabila pasien sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan OAT atau telah mendapat pengobatan OAT kurang dari 1 bulan Resistensi ini ialah apabila kita tidak tahu pasti apakah pasien sudah ada riwayat pengobatan OAT sebelumnya atau belum pernah
  • Resistensi sekunder ialah apabila pasien telah mempunyai riwayat pengobatan OAT minimal 1 bulan

Terdapat empat jenis kategori resistensi terhadap obat TB :

1.      Mono-resistance: kekebalan terhadap salah satu OAT

2.      Poly-resistance: kekebalan terhadap lebih dari satu OAT, selain kombinasi isoniazid dan Rifampisin

3.      Multidrug-resistance (MDR) : kekebalan terhadap sekurang-kurangnya isoniazid dan Rifampicin

4.      Extensive drug-resistance (XDR) : TB- MDR ditambah kekebalan terhadap salah salah satu obat golongan fluorokuinolon, dan sedikitnya salah satu dari OAT injeksi lini kedua (kapreomisin, kanamisin, dan amikasin)

Penatalaksanaan MDR TB menurut WHO guidelines 2008 membuat pentahapan tersebut sebagai brikut (World Health Organization, 2008):

Tahap 1 : gunakan obat dari lini pertama yang manapun yang masih menunjukkan efikasi

Tahap 2 : tambahan obat di atas dengan salah satu golongan obat injeksi berdasarkan hasil uji sensitivitas dan riwayat pengobatan

Tahap 3 : tambahan obat-obat di atas dengan salah satu obat golongan fluorokuinolon

Tahap 4 : tambahkan obat-obat tersebut di atas dengan satu atau lebih dari obat golongan 4 sampai sekurang-kurangnya sudah tersedia 4 obat yang mungkin efektif

Tahap 5 : pertimbangkan menambahkan sekurang-kurangnya 2 obat dari golongan 5 (melalui proses konsultasi dengan pakar TB MDR) apabila dirasakn belum ada 4 obat yang efektif dari golongan 1 sampai 4.

Selain itu, ada beberapa butir dalam pengobatan MDR TB yang dianjurkan oleh WHO (2008) sebagai prinsip dasar, antara lain (World Health Organization, 2008) : (1) Regimen harus didasarkan atas riwayat obat yang pernah diminum penderita. (2) Dalam pemilihan obat pertimbangkan prevalensi resistensi obat lini pertama dan obat lini kedua yang berada di area / negara tersebut. (3) Regimen minimal terdiri 4 obat yang jelas diketahui efektifitasnya. (4) Dosis obat diberikan berdasarkan berat badan. (5) Obat diberikan sekurnag-kurangnya 6 hari dalam seminggu, apabila mungkin etambutol,pirazinamid, dan fluoro kuinolon diberikan setiap hari oleh karena konsentrasi dalam serum yang tinggi memberikan efikasi. (6) Lama pengobatan minimal 18 bulan setelah terjadi konversi. (7) Apabila terdapat DST, maka harus digunakan sebagai pedoman terapi. DST tidak memprediksi efektivitas atau inefektivitas obat secara penuh. (8) Pirazinamid dapat digunakan dalam keseluruhan pengobatan apabila dipertimbangkan efektif.

Sebagian besar penderita MDR TB memiliki keradangan kronik di parunya, dimana secara teoritis menghasilkan suasana asam dan pirazinamid bekerja aktif. (9) Deteksi awal adalah faktor penting untuk mencapai keberhasilan Pengobatan pasien MDR TB terdiri atas dua tahap, tahap awal dan tahap lanjutan. Pengobatan MDR TB memerlukan waktu lebih lama daripada pengobatan TB bukan MDR, yaitu sekitar 18-24 bulan. Pada tahap awal pasien akan mendapat Obat anti tuberkulosis lini kedua minimal 4 jenis OAT yang masih sensitif, dimana salah satunya adalah obat injeksi. Pada tahap lanjutan semua OAT lini kedua yang dipakai pada tahap awal.

Pasien TB MDR membutuhkan lebih banyak dukungan karena permasalahan tersebut. Dukungan karena kebosanan terhadap waktu pengobatan, dukungan pembiayaan yang lebih memadai agar kontinuitas pengobatan tetap berlangsung, dukungan dari semua pihak untuk membantu pasien melewati berbagai efek samping, mulai Mual, muntah, sakit di pergelangan tangan, gangguan pendengaran sampai pada tahap tuli, gangguan penglihatan bahkan sampai pada gangguan kejiwaan seperti shizoprenia.

sumber gambar : topnews.net.nz



 
Copyright © 2010 IDI Jembrana. All Rights Reserved. Maintained by rumahmedia