KRITIK DAN SARAN

13 Januari 2014
Norma Kumala Dewi
Saya dari PT.Endo Indonesia importir & Distributor exclusive Laparoscopy Tontara . . . .

27 Juli 2013
Putu Iwan
kami dari mapanmajucreative, menawarkan jasa sewa proyektor, bagi rekan2 dokter . . . .
ARTIKEL

Extracorporeal Shockwave Myocardial Revascularization (ESMR) Sebagai Alternatif Terapi Non-invasif Pada Pasien Dengan Angina Pektoris Kronis-Refrakter
27 Juni 2014

Oleh: dr. Putu Pangestu Cendra Natha

 

Penyakit jantung koroner adalah salah satu penyumbang angka kematian dan angka kesakitan terbesar di Amerika Serikat. Hingga saat ini penatalaksanaan untuk pasien dengan penyakit jantung koroner adalah berdasarkan pada tiga pilihan utama, pengobatan dengan medikamentosa, percutaneous coronary intervention (PCI), dan coronary artery bypass grafting (CABG).1,2 Akan tetapi, pada pasien dengan angina pektoris kronis-refrakter terapi medikamentosa tidak memberikan hasil yang memuaskan, sedangkan PCI dan CABG seringkali tidak memungkinkan untuk dilakukan pada pasien tersebut.3

            Angina pektoris kronis-refrakter adalah suatu kondisi kronis yang ditandai oleh adanya angina yang disebabkan oleh insufisiensi koroner dalam keberadaan penyakit jantung koroner yang tidak dapat dikendalikan oleh kombinasi terapi medikamentosa, angioplasti, dan operasi bypass koroner.4 Kronis didefinisikan sebagai durasi yang lebih dari 3 bulan.4 Pasien-pasien dengan kondisi ini memiliki kualitas hidup yang buruk, beban psikologis yang tinggi dan hanya dapat melakukan aktifitas yang sangat terbatas. Pasien-pasien ini biasanya dengan riwayat penyakit jantung menahun dan selama hidupnya sering keluar masuk rumah sakit karena perburukan akut dari penyakitnya.5 Beberapa metode pengobatan baru telah dikembangkan untuk meringankan gejala dan memperbaiki kualitas hidup dari pasien dengan angina pektoris kronis-refrakter, salah satu yang paling baru adalah dengan extracorporeal shockwave myocardial revascularization (ESMR).

            Terapi gelombang kejut (shockwave) telah digunakan di dunia medis sejak 20 tahun yang lalu untuk menghancurkan batu ginjal (litotripsi). Beberapa penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa gelombang kejut berenergi rendah yaitu 10% dari energi yang digunakan pada litotripsi dapat memicu neovaskularisasi otot jantung. Hal ini berkaitan dengan pelepasan vascular endothelial growth factor (VEGF) dan nitric oxide (NO) pada otot jantung yang diberikan gelombang kejut.6,7 Gelombang kejut dihasilkan oleh generator yang ditempelkan ke dada pasien melalui sebuah bantalan air dan diarahkan ke bagian jantung yang mengalami iskemia, yang terlebih dahulu ditentukan dengan menggunakan ekokardiografi.8

Terapi Gelombang Kejut             

Uji klinis pada manusia dengan penyakit jantung iskemi fase lanjut tanpa indikasi untuk dilakukan PCI ataupun CABG menunjukkan bahwa terapi gelombang kejut memperbaiki gejala, mengurangi penggunaan nitrogliserin, dan juga memperbaiki perfusi pada otot jantung yang mengalami iskemi.6,7 Efek yang ditimbulkan oleh gelombang kejut bertahan paling tidak selama 12 bulan dan tidak ada komplikasi ataupun efek samping yang diamati selama prosedur ini dilakukan.7 Penelitian lain mendapati bahwa ESMR meringankan gejala klinis dan juga meningkatkan toleransi terhadap aktivitas fisik pada pasien dengan angina pektoris kronik-refrakter.9 Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya peningkatan level toponin-I ataupun aritmia.

Dari hasil penelitian-penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ESMR adalah metode terapi non-invasif yang efektif dalam mengurangi gejala, meningkatkan toleransi terhadap aktivitas, dan juga memperbaiki perfusi otot jantung pada pasien dengan angina pektoris kronis-refrakter, dimana pada pasien dengan kondisi ini pengobatan medikamentosa, PCI, dan CABG tidak memberikan hasil yang memuaskan.

           

 

Daftar Pustaka

1.      Michael F. Richman. Coronary artery disease. 2012. Available from: http://www.webmd.com/heart-disease/guide/heart-disease-coronary-artery-disease.

2.      Hanafi B. Trisnohadi. Angina pektoris tak stabil. Dalam: Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi V. PAPDI, 2009. Hal. 1728-34.

3.      C. Richard Conti. Refractory angina: current option. ACC. 2001:10-4.

4.      C. Mannheimer, et al. The problem of chronic refractory angina. EHJ. 2002;2003:355-70.

5.      Mike J. L. DeJongste, et al. Cronic therapeutically refractory angina pectoris. BMJ. 2004.

6.      Yu Wang, et al. A modified regimen of extracorporeal cardiac shock wave therapy for treatment of coronary artery disease. Cardiovascular ultrasound. 2012. 10:35.

7.      Kenta Ito, et al. Extracorporeal shock wave therapy as a new and non-invasive angiogenic strategy. Tohoku J. Exp. Med., 2009. 219:1-9.

8.      Department of health and ageing. Ectracorporeal shock wave therapy for the treatment of angina. Australian Goverment.2010.

9.      Jean-Paul Schmid, et al. Cardiac shock wave therapy for chronic angina pectoris: a prospective placebo-controlled randomized trial. Cardiovascular therapeutic. 2013. 31:e1-e6.

sumber foto: www.strumedical.com

*) Penulis adalah Anggota IDI Cabang Denpasar



 
Copyright © 2010 IDI Jembrana. All Rights Reserved. Maintained by rumahmedia