KRITIK DAN SARAN

13 Januari 2014
Norma Kumala Dewi
Saya dari PT.Endo Indonesia importir & Distributor exclusive Laparoscopy Tontara . . . .

27 Juli 2013
Putu Iwan
kami dari mapanmajucreative, menawarkan jasa sewa proyektor, bagi rekan2 dokter . . . .
ARTIKEL

Pertolongan Pertama Pada Korban Tenggelam
27 Januari 2014

Bali saat ini merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang paling ingin dikunjungi wisatawan. Kebudayaan dan keindahan alam Bali menjadi daya tarik yang kuat sehingga banyak wisatawan baik domestik maupun internasional datang ke Bali. Pantai merupakan salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi di Bali. Tak terkecuali di Jembrana, pantai menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk datang. Terkadang hal yang tidak diinginkan seperti tenggelam terjadi. Di Jembrana sudah beberapa kali terdapat kasus korban tenggelam. Penanganan awal korban tenggelam ditempat kejadian merupakan hal yang sangat penting untuk menyelamatkan nyawa korban.

Tenggelam (drowning) merupakan cedera yang disebabkan perendaman (submersion/immersion) yang dapat mengakibatkan kematian dalam waktu kurang dari 24 jam. Apabila korban selamat kurang dari 24 jam, disebut dengan near drowning. Tenggelam dapat terjadi baik pada air tawar maupun air asin. Masuknya sejumlah cairan, dapat menyebabkan edema paru yang mengakibatkan penurunan fungsi paru-paru dan dapat diperburuk oleh adanya kontaminan di air seperti bakteri, material kecil, berbagai bahan kimia dan muntahan. Efek fisiologis aspirasi antara tenggelam di air tawar dan air laut adalah berbeda. Pada tenggelam di air tawar, plasma darah mengalami hipotonik, sedangkan pada air laut mengalami hipertonik. Aspirasi air tawar akan cepat diabsorbsi dari alveoli sehingga menyebabkan hipervolemia intravaskular, hipotonis, dilusi elektrolit serum, danhemolisis intravaskular. Aspirasi air laut menyebakan hipovolemia, hemokonsentrasi dan hipertonis.

Korban tenggelam biasanya meninggal karena distribusi oksigen ke seluruh tubuh tidak adekuat. Hal ini karena korban tenggelam biasanya akan menahan napas dan panik sehingga korban mengaspirasi banyak air dan air tersebut menutup jalan napas korban. Hal tersebut disebut dengan wet drowning. Terdapat pula dry drowning dimana korban mengaspirasi air dengan jumlah yang tidak signifikan, namun terjadi spasme laring yang menghambat jalan napas. Evaluasi dan penanganan ABC (Airway-Breathing-Circulation) secara tepat dan sinergis diperlukan untuk memaksimalkan fungsi paru-paru dan jantung untuk menyelamatkan korban. Prinsipnya, oksigenasi, ventilasi, dan perfusi korban tenggelam harus segera dikembalikan fungsinya sesegera mungkin.

Pertama, selamatkan korban dari air dan panggil bantuan serta ambulans. Penolong sebaiknya bisa berenang dan harus dapat mencapai korban secepat mungkin, dengan tetap memperhatikan keselamatan diri. Sebaiknya penyelamatan dilakukan dengan alat angkut seperti perahu, rakit, atau alat angkut lainnya. Selama evakuasi pastikan jalan napas korban selalu terbuka.

Setelah di darat, lakukan evaluasi terhadap kesadaran dan ABC. Cek kesadaran korban. Berikan respon untuk menyadarkan korban dengan menggoyang-goyangkan maupun menepuk tubuh pasien. Hal pertama yang dilakukan dalam ABC adalah memastikan jalan napas korban bebas dari sumbatan (Airway). Buka mulut dan angkat rahang korban dengan gerakan head tilt dan chin lift atau bisa dengan memiringkan ke samping bila tidak dicurigai terdapat trauma servikal. Bila dicurigai terdapat trauma servikal lakukan gerakan jaw trust untuk membebaskan jalan napas korban dan pastikan posisi leher dengan badan segaris lurus. Kemudian bersihkan muntahan dengan jari atau penyedot (suction) jika ada. Cek pernapasan (Breathing), jika tidak ada napas berikan napas bantuan 2 kali dahulu, bisa dari mulut ke mulut (mouth to mouth) atau dari mulut ke hidung (mouth to nose), kemudian cek nadi (Circulation). Bila nadi masih ada tapi korban tidak bernapas, lanjutkan napas bantuan 12 kali per menit atau napas bantuan diberikan setiap 5 menit. Jika korban tidak bernapas dan nadi tidak teraba, segera lakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dengan kompresi dada dan pernapasan buatan sesuai umur. RJP bertujuan untuk mengatasi kegagalan sirkulasi darah akibat henti jantung. Frekuensi kompresi dada yang dilakukan setidaknya 100 kali per menit dengan kedalaman 5 cm pada 2-3 jari diatas ujung tulang dada (processus xiphoideus). 1 Siklus RJP pada dewasa adalah setiap 30 kali kompresi dada diberikan 2 kali napas bantuan (30:2). Evaluasi kembali nadi dan napas setiap 5 siklus. Indikasi bahwa RJP dapat dihentikan adalah apabila pasien telah sadar atau pasien sudah meninggal atau penolong kelelahan.

Penolong sebaiknya memasang Automated External Defibrillator (AED) jika tersedia. Pakaian basah korban dilepas dan selimuti korban dengan selimut yang kering dan tebal untuk mencegah hipotermia (kehilangan panas tubuh). Setelah ambulans datang, bawa segera ke UGD terdekat untuk evaluasi dan penanganan lebih lanjut sehingga dapat meminimalisir komplikasi yang mungkin ditimbulkan dan menyelamatkan nyawa korban. Jadi evaluasi dan pelaksanaan ABC yang tepat dan benar yang dilakukan sedini mungkin merupakan hal yang penting untuk meminimalisir komplikasi dan angka kematian akibat tenggelam.

Oleh : dr. I Gusti Agung Bagus Kusuma Jayadi, S.Ked



 
Copyright © 2010 IDI Jembrana. All Rights Reserved. Maintained by rumahmedia