KRITIK DAN SARAN

13 Januari 2014
Norma Kumala Dewi
Saya dari PT.Endo Indonesia importir & Distributor exclusive Laparoscopy Tontara . . . .

27 Juli 2013
Putu Iwan
kami dari mapanmajucreative, menawarkan jasa sewa proyektor, bagi rekan2 dokter . . . .
ARTIKEL

Pain Management Dengan PCA (Patient Controlled Analgesia)
27 Januari 2014

Berdasarkan International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan adanya kerusakan jaringan atau potensial terjadi kerusakan jaringan atau keadaan yang menunjukkan suatu kerusakan jaringan. Nyeri yang berkepanjangan dapat mengganggu kualitas hidup pasien serta dapat memperlama penyembuhan serta pemulihan pada pasien pasca operasi. Analgetik biasanya diberikan secara intravena pada pasien rawat inap dan dilanjutkan dengan per oral. Saat ini terdapat metode yang efektif dan aman untuk mengatasi nyeri yang melibatkan pasien secara aktif dalam memanajemen nyeri yang dirasakannya.

Patient Controlled Analgesia(PCA) merupakan suatu metode interaktif dan mutakhir dalam penanganan nyeri, dimana pasien diikutsertakan secara aktif dalam menentukan jumlah analgetik yang diberikan yang sesuai untuk dirinya sendiri. Konsep PCA secara luas adalah pasien segera mendapat analgetik sesuai nyeri yang dirasakannya, baik melalui intravena, epidural, inhalasi, transkutan maupun oral. Dalam konteks saat ini, penanganan nyeri dengan PCA di rumah sakit menggunakan suatu mesin alat infus elektronik dengan pompa dan dilengkapi dengan tombol kontrol untuk memasukkan sejumlah dosis analgesia. Obat analgesia akan masuk bila pasien menekan tombol dengan dosis analgesia yang telah terprogram sebelumnya. Biasanya analgetik yang diberikan melalui mesin PCA berupa golongan opioid, namun tidak jarang NSIAD juga diberikan melalui mesin PCA.

Jalur pemberian analgetik dengan mesin PCA umumnya dan paling sering melalui intravena, yang disebut dengan Patient Controlled Analgesia-Intravena (PCA-IV). Terdapat juga pemberian melalui epidural yang disebut Patient Controlled Epidural Analgesia (PCEA). Penggunaan mesin PCA memungkinkan kontrol yang baik dan respon yang cepat pada penanganan nyeri. Pemberian analgetik melalui PCA sering digunakan untuk penanganan nyeri pada pasien pasca operasi dan penanganan nyeri berat seperti pasien dengan kanker stadium akhir di rumah sakit.

Pada penggunaan PCA terdapat beberapa komponen dasar dalam pemberiannya. Adapun hal tersebut adalah initial loading dose (dosis awal), bolus dose/demand dose (dosis permintaan), serta lockout interval (interval terkunci).Initial loading dose adalah merupakan total dosis awal yang diberikan pada pasien hingga mencapai minimum effective analgesic concentration (MEAC). Bolus dose/demand dose  merupakan jumlah dosisanalgetik yang dikeluarkan kepada pasien dengan menekan demand button (tombol permintaan). Pasien akan menekan tombol tersebut saat merasakan nyeri yang mengganggu. Sedangkan lockout interval atau merupakan periode waktu dimana mesin tidak akan mengeluarkan obat sesuai demand dose meskipun pasien telah memencet tombol permintaan. Sistem lockout ini dimaksudkan agar pasien tidak mendapat dosis analgetik berlebihan untuk menghindari dan mencegah overdosis karena pasien terus menekan tombol permintaan dengan frekuensi melebihi dosis. Selain ketiga hal tersebut, terdapat pula pemberian infus secara kontinyu yang merupakan background infusion. Background infusion merupakan infus yang terus terpasang dengan kecepatan dan dosis yang tetap tanpa ada kaitannya dengan tombol permintaan dari mesin PCA.

Jadi PCA memiliki keunggulan dibandingkan dengan metode pemberian analgetik dengan cara konvensional. Keuntungan PCA adalah respon terhadap nyeri cepat dan dosis analgesik setiap pasien juga lebih tepat dan sesuai dengan kebutuhan pasien itu sendiri secara individual, karena setiap pasien memiliki respon dosis analgesia yang berbeda-beda terhadap opioid. Dengan penggunaan mesin PCA, pemberian opioid akan lebih aman dan terkontrol sehingga dapat menghindari depresi pernapasan dan efek-efek samping lainnya. Selain itu, saat pasien menerima dosis opioid yang cukup dan mulai tersedasi opioid, pasien diharapkan tidak akan menekan tombol untuk menerima opioid lagi.

Namun dibalik semua kelebihannya, PCA memiliki kelemahan, yaitu diperlukan petugas medis yang yang terlatih untuk mengawasi PCA. Kesalahan pemberian analgetik bisa terjadi apabila petugas medis tidak terlatih ataupun tidak memahami dengan baik tentang pengoperasian ataupun dalam memprogram mesin PCA tersebut. Edukasi kepada pasien juga sangat penting agar pasien memahami dan mengerti instruksi penggunaan tombol permintaan pada mesin PCA. Kedua hal ini dimaksudkan untuk memaksimalkan efektifitas dan keamanan pasien yang sedang diberikan analgetik melalui mesin PCA. Selain hal tersebut, penggunaan mesin PCA relatif lebih mahal dengan cara pemberian analgetik lainnya, seperti infus dan peroral.

 

Penanganan nyeri merupakan hal yang sangat penting dimana dapat mempengaruhi kesembuhan pasien dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Dalam penanganan nyeri, pemberian analgetik dapat dengan cara peroral, epidural, inhalasi, transkutan, infus intravena, maupun dengan penggunaan mesin PCA. Penggunaan mesin PCA adalah salah satu metode pemberian analgetik yang memungkinkan untuk kontrol nyeri dengan cepat dan efektif, namun penggunaannya perlu dokter dan tenaga medis yang terlatih serta edukasi pasien yang baik agar keefektifitasan penggunaannya dapat maksimal.

Oleh : dr. I Gusti Agung Bagus Kusuma Jayadi, S.Ked



 
Copyright © 2010 IDI Jembrana. All Rights Reserved. Maintained by rumahmedia