KRITIK DAN SARAN

13 Januari 2014
Norma Kumala Dewi
Saya dari PT.Endo Indonesia importir & Distributor exclusive Laparoscopy Tontara . . . .

27 Juli 2013
Putu Iwan
kami dari mapanmajucreative, menawarkan jasa sewa proyektor, bagi rekan2 dokter . . . .
ARTIKEL

REAKSI ANAPHILAKSIS DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN
29 Mei 2013

Penulis : dr. I Komang Adhi Parama Harta, S.Ked

Sistem imun merupakan contoh aktivitas biologi yang sangat kompleks. Pengenalan, memori, serta kespesifikkan terhadap benda asing merupakan inti imunologi. Reaksi hipersensitivitas merupakan suatu keadaan dimana terjadi perubahan pada peningkatan reaktivitas respon imunitas tubuh terhadap suatu substan atau antigen tertentu.2 Tahun 1963, Gell dan Coombs mengklasifikasikan hipersensitivitas menjadi empat tipe reaksi (tipe I, II, III, dan IV), yang dibedakan tergantung pada tingkat keparahan dan latensi (lama atau periode waktu) dari setiap reaksi.1,2,3

Hipersensitivitas tipe I, merupakan suatu reaksi tipe cepat (immediate immune reaction) terhadap suatu antigen tertentu. Sel mast dan basopil sangat berperan pada reaksi tipe ini. Setelah terekspose antigen, sel mast dan basopil melakukan proses degranulasi, kemudian mengeluarkan substan tertentu yang akan memicu terjadinya inflamasi (Gambar 1A). Antigen akan berinteraksi dengan molekul IgE yang terikat dengan afinitas tinggi dengan suatu reseptor pada permukaan sel mast, disebut sebagai crystallizable reseptor (Fc). Hal inilah yang akan memicu terjadinya degranulasi. Sel mast yang tergranulasi akan mengeluarkan berbagai mediator inflamasi diantaranya histamine, proteoglycans, protease serine, dan leukotrine. Pelepasan mediator inflamasi secara cepat akan bermanifestasi klinis berupa urtikaria, kemerahan, hay fever, dan angioedema (bengkak pada bibir, kelopak mata, tenggorokan, dan lidah). Semua manifestasi tersebut sering  dikenal dengan istilah reaksi anaphilaksis atau alergi. Pada beberapa kasus, reaksi alergi atau anaphilaksis ini, bermanifestasi berat, sehingga dapat menghalangi jalan nafas (airway) atau menyebabkan terjadinya aritmia jantung.2,3

TRIGGERANAPHILAKSIS

Anaphilaksis dapat disebabkan oleh berbagai pemicu (trigger). Makanan adalah penyebab tersering pada anak-anak, sedangkan obat adalah penyebab tersering pada usia dewasa. Hampir semua jenis obat dan makanan dapat memicu anaphilaksis, tetapi makanan jenis kacang-kacangan “nuts” dan obat relaksan otot, antibiotik, NSAIDs, dan aspirin lebih sering dilaporkan. Selain itu, juga terdapat banyak kasus idiopatik (non-IgE mediated).4,5,7

 

DIAGNOSIS ANAPHILAKSIS

Kriteria diagnosis reaksi anaphilaksis menurut F. Estelle R. Simons el al, World Allergy Organization Guidelines for the Assessment and Management of Anaphylaxis (Tabel 1).

Tabel 1. Kriteria Diagnosis Reaksi Anaphilaksis Menurut World Allergy Organitation9

PENATALAKSANAAN ANAPHILAKSIS

Tahapan kunci penanganan reaksi anaphilaksis menggunakan prinsip ABCDE.4,5

Gambar 1. Algoritma Penanganan Reaksi Anaphilaksis4,5

Posisi Pasien

Pasien dengan masalah Airway dan Breathing diposisikan duduk tegak (sit up) sehingga akan membuat pernafasan lebih mudah. Berbaring lurus (lying flat) dengan atau tanpa menaikkan kaki (leg elevation), digunakan untuk pasien dengan tekanan darah rendah (masalah sirkulasi). Jangan posisikan pasien duduk atau berdiri jika mereka merasa seperti mau pingsan, dapat mengakibatkan henti jantung (cardiac arrest). Pasien yang masih bernafas tetapi tidak sadar, diposisikan miring satu sisi (on their side) untuk recovery. Pasien hamil diposisikan miring ke kiri untuk mencegah terjadinya kompresi caval (vena cava).4,5

Singkirkan Pemicu (Remove The Trigger) Jika Memungkinkan

Hentikan semua obat yang dicurigai sebagai penyebab reaksi anaphilaksis. Singkirkan serangga penyengat setelah terjadi sengatan serangga. Setelah terjadi reaksi anaphilaksis yang dipicu makanan, usaha untuk membuat pasien muntah tidak direkomendasikan.4,5

Cardiorespiratory ArrestSetelah Reaksi Anaphilaksis

Mulailah resusitasi jantung paru (RJP) secepat mungkin dan ikuti panduan terbaru.

OBAT DAN CARA KERJANYA

Adrenalin (Epinephrine)

Adrenalin adalah obat terpenting untuk penanganan reaksi anaphilaksis. Sebagai suatu agonist reseptor alpha, adrenalin melawan vasodilatasi perifer dan mengurangi oedema. Dengan aktivitas reseptor beta, adrenalin mendilatasi bronchial airway, meningkatkan kekuatan kontaksi miokardiak, serta menekan pengeluaran histamine dan leukotrin. Pada mast sel terdapat reseptor beta-2 adrenergic, reseptor ini dapat menghambat aktivasi mast sel, sehingga dengan pemberian adrenalin pada fase awal, akan mengurangi tingkat keparahan suatu reaksi alergi yang dimediasi oleh IgE (Gambar 3). Pemberian secara intramuskular adalah rute terbaik untuk penanganan reaksi anaphilaksis. Tempat terbaik injeksi adalah sisi anterolateral dari sepertiga paha bagian tengah (anterolateral aspect of the middle third of the thigh). Pemberian secara subkutan atau inhaler tidak direkomendasikan, karena kurang efektif dibandingkan IM.4,5,10

 

Gambar 2. Efek Andrenalin10

Oksigen (Berikan Secepat Mungkin)

Diberikan oksigen konsentrasi tinggi, gunakan masker dengan oxygen reservoir. Pastikan high flow oxygen (>10 L/min) untuk mencegah kollapnya reservoir saat inspirasi. Jika telah dilakukan intubasi pada trakea pasien, berikan ventilasi untuk paru pasien dengan oksigen konsentrasi tinggi menggunakan self-inflating bag.4,5

Cairan (Berikan Secepat Mungkin)

Lakukan rapid IV fluid challenge (20 mL/kg pada anak-anak atau 500-1000 mL pada orang dewasa) dan monitor respon pasien, berikan dosis berikutnya sesuai keperluan. Cairan Hartmann’s atau salin 0,9 % merupakan cairan yang terbaik diberikan saat initial resuscitation. Jika akses intravena terlambat ditemukan, rute intra-osseous dapat digunakan untuk resusitasi awal.4,5

Antihistamin (Setelah Dilakukan Resusitasi Awal)

H1-antihistamin mengcounter vasodilatasi yang dimediasi oleh histamine dan bronkokonstriksi. Jika digunakan sendiri tanpa obat lain, antihistamin tidak berguna sebagai life-saving pada kondisi yang memang benar terjadi reaksi anaphilaksis.

Steroid (Setelah Dilakukan Resusitasi Awal)

Kortikosteroid dapat membantu mencegah atau memperpendek terjadinya suatu reaksi berkepanjangan (protracted reactions).

Bronkodilator

Jika pasien hanya memiliki tanda klinis seperti asma (asthma-like features), sesuai dengan the British Thoracic Society – SIGN Asthma Guideline, pemberian bronkodilator seperti salbutamol (inhaler atau IV), ipratropium (inhaler), aminophyline (IV), atau magnesium (IV) dapat dipertimbangkan.4,5,9

Obat Jantung (Cardiac Drugs)

Terdapat pilihan vasopressor dan inotropik lain (noradrenalin, vasopressin, metaraminol, dan glucagon) yang dapat digunakan saat resusitasi awal kalau dengan pemberian adrenalin dan cairan belum memperlihatkan tanda keberhasilan. Obat-obatan tersebut biasanya hanya digunakan oleh spesialis dalam setting intensive care unit.4,5,9

PROGNOSIS

Secara keselurahan, prognosis anaphilaksis adalah baik. Berbagai studi melaporkan case fatality ratio adalah 1%. Risiko kematian meningkat pada pasien yang sebelumnya menderita asma tidak terkontrol, dan pada pemberian adrenalin yang terlambat.Pada anaphilaksis fatal, kematian sangat cepat setelah kontak dengan trigger. Protracted anaphylaxis, sering disertai hipotensi yang terjadi lebih dari 24 jam, dan memberikan respon minimal terhadap terapi agresif, memiliki prognosis yang buruk.4,5,11

Pemulangan pasien yang mengalami reaksi anapahilaksis harus setelah semua penanganan selesai dilakukan, pasien stabil, dan setidaknya dilakukan observasi selama 6 jam. Semua pasien yang pernah mengalami anaphilaksi sebaiknya dirujuk ke pelayanan yang memiliki spesialisasi ilmu alergi dan imunologi untuk mengidentifikasi faktor penyebab (trigger), dan mengurangi risiko terjadi reaksi berikutnya.4,5

DAFTAR PUSTAKA

1.      Djuanda, Adhi et al. Pengetahuan Dasar Imunologi. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi kelima. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.2007:43-52.

2.      Marc D, Olson K. Hypersensitivity Reactions and Methods of Detection. NeuroScience Inc. 2009:1-4.

3.      Anonim. Chapter 21 Immediate Hypersensitivity: Allergy. [cited 2012 November]. Available from: Http://www.Google/Hypersensitivity/Chapter/21/Immediate/Hypersensitivity/Allegy/pdf.htm.

4.      Soar J et al. Emergency Treatment of Anaphylactic Reactions-Guidelines for Healthcare Providers. Resuscitation Council (UK). Published by Elsevier Ireland Ltd. 2008;Resuscitation 77:157-169.

5.      Soar J et al. Emergency Treatment of Anaphylactic Reactions. London: Resuscitation Council (UK). 2008:1-50.

6.      Sampson HA et al. Symposium on Definition and Management of Anaphylaxis: Sumarry Report. The Journal of Allergy and Clinical Immunology. Elsevier. 2005;115(3):1-21.

7.      Rutkowski K, Dua S, Nasser S. Anaphylaxis: Current State of Knowledge for the Modern Physician. Postgrad Med J. 2012;88:458-464.

8.      Phoon LY, Chong CF, Wang TL. Recognition and Management of Anaphylactic Shock. Ann Disaster Med. 2004;2 Suppl 2:S61-S68.

9.      Simon FER et al. World Allergy Organization Guidelines for the Assessment and Management of Anaphylaxis. The Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2011;127(3):593.e1-e22.

10.  Simons FER. Anaphylaxis: Recent Advances in Assessment and Treatment. The Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2011;124(4):625-36.

11.  Ellis AK, Day JH. Diagnosis and Management of Anaphylaxis. CMAJ. 2003;169(4):307-12.



 
Copyright © 2010 IDI Jembrana. All Rights Reserved. Maintained by rumahmedia